PENGGUNAAN TANDA BACA
Assalamualaikum,
Pada postingan kali ini, Synaoo.com akan memberikan sajian materi pelajaran Bahasa Indonesia berupa
Penggunaan Tanda Baca sesuai dengan PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia). Materi ini sebagian besar sudah kita kuasai karena seringnya kita membaca buku. Untuk mengetahui lebih jelas materinya bacalah materi berikut ini.
🔔 Tanda Titik ( . )
1. Dipakai di akhir kalimat pernyataan.
Contoh :
➪ Dia sangat mencintainya.
➪ Dia akan menemuiku di sini.
2. Dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan atau daftar.
Contoh :
➪ 1.2.2 Tabel Hasil Penelitian
➪ A. Bahasa Indonesia
3. Dipakai untuk memisahkan angka jam, menit dan detik.
Contoh :
➪ 02.00 WIB
➪ 06.30 PM
4. Dipakai dalam daftar pustaka di antara nama penulis, tahun, dan judul tulisan.
Contoh :
➪ Masyawi, Asnal. 1999. Berbagi Ilmu. Jakarta: Gramedia.
5. Dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang menunjukkan jumlah.
Contoh :
➪ Festival itu diikuti 100.000 peserta
➪ Seorang investor menginvestasikan Rp 250.000.000
🔔 Tanda Koma ( , )
1. Dipakai diantara unsur-unsur dalam suatu perincian.
Contoh :
➪ Tahu, tempe, pisang goreng tersedia di warung itu.
➪ Satu, dua, .... tiga!
2. Dipakai sebelum kata penghubung, seperti tetapi, melainkan, dan sedangkan.
Contoh :
➪ Aku mendekatinya, tetapi dia menghindar.
➪ Aku sedang belajar, sedangkan ibuku memasak makanan di dapur.
3. Dipakai untuk memisahkan anak kalimat yang mendahului induk kalimatnya.
Contoh :
➪ Kalau diundang, saya akan datang.
➪ Karena baik hati, dia mempunyai banyak teman.
4. Dipakai di belakang kata antar kalimat, seperti oleh karena itu, jadi, dan dengan demikian.
Contoh :
➪ Anak itu berhasil menjadi juara kelas. Oleh karena itu, dia mendapat hadiah sepeda dari ayahnya.
5. Dipakai sebelum dan/atau sesudah kata seru, seperti o, ya, wah, aduh, atau hai, dan kata yang dipakai sebagai sapaan, seperti Bu, Dik, atau Nak.
Contoh :
➪ O, begitu?
➪ Wah, bukan main!
➪ Hati-hati, ya, jalannya licin!
6. Dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
Contoh :
➪ Kata nenek saya, “Kita harus berbagi dalam hidup ini.”
➪ “Kita harus berbagi dalam hidup ini,” kata nenek saya,
7. Dipakai di antara (a) nama dan alamat, (b) bagian-bagian alamat, (c) tempat dan tanggal, serta (d) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
Contoh :
➪ Surabaya, 10 Mei 1960
➪ Tokyo, Jepang
8. Dipakai untuk memisahkan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.
Contoh :
➪ Gunawan, Ilham. 1984. Kamus Politik Internasional. Jakarta: Restu Agung.
➪ Halim, Amran (Ed.) 1976. Politik Bahasa Nasional. Jilid 1. Jakarta: Pusat Bahasa.
9. Dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki atau catatan akhir.
Contoh :
➪Sutan Takdir Alisjahbana, Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia, Jilid 2 (Jakarta: Pustaka Rakyat, 1950), hlm. 25.
➪Hadikusuma Hilman, Ensiklopedi Hukum Adat dan Adat Budaya Indonesia (Bandung: Alumni, 1977), hlm. 12.
10. Dipakai di antara nama orang dan singkatan gelar akademis yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.
Contoh :
➪ B. Ratulangi, S.E.
➪ Ny. Khadijah, M.A.
11. Dipakai sebelum angka desimal atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.
Contoh :
➪ 27,3 kg
➪ Rp500,50
12. Dipakai untuk mengapit keterangan tambahan atau keterangan aposisi.
Contoh :
➪ Di daerah kami, misalnya, masih banyak bahan tambang yang belum diolah.
➪ Semua siswa, baik laki-laki maupun perempuan, harus mengikuti latihan paduan suara.
13. Dipakai di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat untuk menghindari salah baca/salah pengertian.
Contoh :
➪ Dalam pengembangan bahasa, kita dapat memanfaatkan bahasa daerah.
➪ Atas perhatian Saudara, kami ucapkan terima kasih.
🔔 Tanda Titik Koma ( ; )
1. Dipakai sebagai pengganti kata peng-hubung untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara yang lain di dalam kalimat majemuk.
Contoh :
➪ Hari sudah malam; anak-anak masih membaca buku.
➪ Ayah menyelesaikan pekerjaan; Ibu menulis makalah; Adik membaca cerita pendek.
2. Dipakai pada akhir perincian yang berupa klausa.
➪ Syarat penerimaan pegawai di lembaga ini adalah
(1) berkewarganegaraan Indonesia;
(2) berijazah sarjana S-1;
(4) bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
3. Dipakai untuk memisahkan bagian-bagian pemerincian dalam kalimat yang sudah menggunakan tanda koma.
➪ Ibu membeli buku, pensil, dan tinta; baju, celana, dan kaus; pisang, apel, dan jeruk.
➪ Agenda rapat ini meliputi
a. pemilihan ketua, sekretaris, dan bendahara;
b. penyusunan anggaran dasar, anggaran rumah tangga, dan program kerja; dan
c. pendataan anggota, dokumentasi, dan aset organi-sasi.
1. Dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap yang diikuti pemerincian atau penjelasan.
➪ Mereka memerlukan perabot rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.
2. Dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.
3. Dipakai dalam naskah drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.
➪ Ibu : “Bawa koper ini, Nak!”
Ibu : “Jangan lupa, letakkan baik-baik!”
4. Dipakai di antara (a) jilid atau nomor dan halaman, (b) surah dan ayat dalam kitab suci, (c) judul dan anak judul suatu karangan, serta (d) nama kota dan penerbit dalam daftar pustaka.
➪ Horison, XLIII, No. 8/2008: 8
1. Dipakai untuk menandai bagian kata yang terpenggal oleh pergantian baris.
➪ Di samping cara lama, diterapkan juga ca-
2. Dipakai untuk menyambung unsur kata ulang.
3. Dipakai untuk menyambung tanggal, bulan, dan tahun yang dinyatakan dengan angka atau menyambung huruf dalam kata yang dieja satu-satu.
4. Dipakai untuk memperjelas hubungan bagian kata atau ungkapan.
5. Dipakai untuk merangkai
➪ se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital (se-Indonesia, se-Jawa Barat);
➪ ke- dengan angka (peringkat ke-2);
6. Dipakai untuk merangkai unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa daerah atau bahasa asing.
➪ di-sowan-i (bahasa Jawa, ‘didatangi’)
➪ ber-pariban (bahasa Batak, ‘bersaudara sepupu’)
7. Digunakan untuk menandai bentuk terikat yang menjadi objek bahasan.
➪ Kata pasca- berasal dari bahasa Sanskerta.
➪ Akhiran -isasi pada kata betonisasi sebaiknya diubah menjadi pembetonan.
1. Dipakai untuk membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun kalimat.
➪ Kemerdekaan bangsa itu—saya yakin akan tercapai—diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.
➪ Keberhasilan itu—kita sependapat—dapat dicapai jika kita mau berusaha keras.
2. Dipakai juga untuk menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain.
➪ Soekarno-Hatta—Proklamator Kemerdekaan RI—diabadikan menjadi nama bandar udara internasional.
➪ Gerakan Pengutamaan Bahasa Indonesia—amanat Sumpah Pemuda—harus terus digelorakan.
3. Dipakai di antara dua bilangan, tanggal, atau tempat yang berarti ‘sampai dengan’ atau ‘sampai ke’.
➪ Tanggal 5—10 April 2013
➪ Jakarta—Bandung
🔔 Tanda Tanya ( ? )
1. Dipakai pada akhir kalimat tanya.
Contoh :
➪ Kapan Hari Pendidikan Nasional diperingati?
➪ Siapa pencipta lagu “Indonesia Raya”?
2. Dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya.
Contoh :
➪ Monumen Nasional mulai dibangun pada tahun 1961 (?).
➪ Di Indonesia terdapat 740 (?) bahasa daerah.
🔔 Tanda Seru ( ! )
Dipakai untuk mengakhiri ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, atau emosi yang kuat.
➪ Alangkah indahnya taman laut di Bunaken!
1. Dipakai untuk menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau kutipan ada bagian yang dihilangkan.
➪ Penyebab kemerosotan ... akan diteliti lebih lanjut.
➪ Dalam Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa bahasa negara ialah ….
2.Dipakai untuk menulis ujaran yang tidak selesai dalam dialog.
➪ “Menurut saya … seperti … bagaimana, Bu?”
➪ “Jadi, simpulannya … oh, sudah saatnya istirahat.”
🔔 Tanda Petik ( "...." )
1. Dipakai untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain.
Contoh :
➪ “Merdeka atau mati!” seru Bung Tomo dalam pidatonya.
➪ “Kerjakan tugas ini sekarang!” perintah atasannya. “Besok akan dibahas dalam rapat.”
2. Dipakai untuk mengapit judul sajak, lagu, film, sinetron, artikel, naskah, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.
Contohnya :
➪ Sajak “Pahlawanku” terdapat pada halaman 125 buku itu.
➪ Marilah kita menyanyikan lagu “Maju Tak Gentar”!
3. Dipakai untuk mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.
Contoh :
➪ “Tetikus” komputer ini sudah tidak berfungsi.
➪ Dilarang memberikan “amplop” kepada petugas!
🔔 Tanda Petik Tunggal ( '...' )
1. Dipakai untuk mengapit petikan yang terdapat dalam petikan lain.
Contoh :
➪ Tanya dia, “Kaudengar bunyi ‘kring-kring’ tadi?”
➪ “Kudengar teriak anakku, ‘Ibu, Bapak pulang!’, dan rasa letihku lenyap seketika,” ujar Pak Hamdan.
2. Dipakai untuk mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan.
Contoh :
➪ tergugat ‘yang digugat’
➪ retina ‘dinding mata sebelah dalam’
🔔 Tanda Kurung ( (....) )
1. Dipakai untuk mengapit tambahan keterang-an atau penjelasan.
Contoh :
➪ Dia memperpanjang surat izin mengemudi (SIM).
➪ Warga baru itu belum memiliki KTP (kartu tanda penduduk).
2. Dipakai untuk mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian utama kalimat.
Contoh :
➪ Sajak Tranggono yang berjudul “Ubud” (nama tempat yang terkenal di Bali) ditulis pada tahun 1962.
➪ Keterangan itu (lihat Tabel 10) menunjukkan arus perkembangan baru pasar dalam negeri.
3. Dipakai untuk mengapit huruf atau kata yang keberadaannya di dalam teks dapat dimunculkan atau dihilangkan.
Contoh :
➪ Dia berangkat ke kantor selalu menaiki (bus) Transjakarta.
➪ Pesepak bola kenamaan itu berasal dari (Kota) Padang.
4. Dipakai untuk mengapit huruf atau angka yang digunakan sebagai penanda pemerincian.
Contoh :
➪ Faktor produksi menyangkut (a) bahan baku, (b) biaya produksi, dan (c) tenaga kerja.
🔔 Tanda Kurung Siku ( [....] )
1. Dipakai untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan atas kesalahan atau kekurangan di dalam naskah asli yang di-tulis orang lain.
Contoh :
➪ Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik.
➪ Penggunaan bahasa dalam karya ilmiah harus sesuai [dengan] kaidah bahasa Indonesia.
2. Dipakai untuk mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang terdapat dalam tanda kurung.
Contoh :
➪ Persamaan kedua proses itu (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab II [lihat halaman 35─38]) perlu dibentangkan di sini.
🔔 Tanda Miring ( / )
1. Dipakai dalam nomor surat, nomor pada alamat, dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim.
Contoh :
➪ Jalan Kramat III/10
➪ tahun ajaran 2012/2013
2. Dipakai sebagai pengganti kata dan, atau, serta setiap.
Contoh :
➪ mahasiswa/mahasiswi ‘mahasiswa dan mahasiswi’
➪ dikirimkan lewat darat/laut ‘dikirimkan lewat darat atau lewat laut’
3. Dipakai untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau pengurangan atas kesalahan atau kelebihan di dalam naskah asli yang ditulis orang lain.
Contoh :
➪ Buku Pengantar Ling/g/uistik karya Verhaar dicetak beberapa kali.
➪ Asmara/n/dana merupakan salah satu tembang macapat budaya Jawa.
🔔 Tanda Penyingkat atau Apostrof
Tanda penyingkat dipakai untuk menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun dalam konteks tertentu.
Contoh :
➪ Dia ‘kan kusurati. (‘kan = akan)
➪ Mereka sudah datang, ‘kan? (‘kan = bukan)
Semoga dapat bermanfaat dan membantu proses belajar teman-teman.
Wassalamualaikum.