Perlawanan Terhadap Kolonialisme Portugis dan Belanda

PERLAWANAN TERHADAP KOLONIALISME


A. Perlawanan Terhadap Portugis dan VOC

1. Perlawanan Rakyat Aceh

a. Latar Belakang

Kedudukan Portigis di Malaka dianggap mengancam Aceh, karena Portugis berusaha memonopoli perdagangan di Aceh. Portugis berusaha menaklukkan Aceh dengan menyerang pertahanan Aceh dan mengganggu kapal-kapal yang menuju Aceh.

b. Jalannya Perlawanan

Pada serangan pertama Aceh dipimpin oleh Sultan Salahudin Syakh kahar.

Pada serangan kedua dipimpin Sultan Iskandar Muda yang memiliki cita-cita menyatukan Sumatra Utara dan Malaka.

Pasukan Aceh melakukan serangan besar-besaran terhadap Portugis.  Pada serangan ini, Portugis kewalahan, namun pertempuran yang terus terjadi belum dapat saling menguasai antara keduanya.

2. Perlawanan Rakyat Maluku

a. Perlawanan Rakyat Maluku Terhadap Portugis

Setalah mengetahui Ternate sebagai pusat perdagangan, Portugis berusaha memonopoli perdagangan rempah-rempah di Ternate.

Pada pemerintahan Sultan Hairun, Ternate melakukan perlawanan terhadap Portugis. Portugis mengalami kewalahan, sehingga mengajukan perundingan damai dengan mengundang Sultan Hairun ke Benteng Sao Paulo. Dengan cara tersebut, Sultan Hairun ditangkap dan dibunuh.

Pembunuhan Sultan Hairun menjadikan rakyat Ternate marah. Di bawah pimpinan Sultan Baabullah, rakyat menyerang pos pertahanan Ternate dan mengepung benteng Sao Paulo selama lima tahun. Akhirnya Portugis meninggalkan Maluku.

b. Perlawanan Rakyat Maluku Terhadap VOC

Setelah Portugis mengalami kekalahan, VOC mulai masuk ke Maluku dengan bekerjasama dengan rakyat Maluku yaitu menanam cengkih. Namun kebijakan VOC merugikan rakyat Maluku. Kebijakan tersebut berupa pembatasan jumlah pohon cengkih agar harganya tetap tinggi.

VOC mulai mencampuri urusan kerajaan Tidore dengan mengangkat Putra Alam sebagai raja. Sultan Nuku yang seharusnya menjadi sultan Tidore pun geram dan didukung oleh rakyat Maluku.

Sultan Nuku dan rakyat Maluku dibantu oleh Sultan Ternate, Inggris, dan juga kerajaan disekitarnya melakukan perlawanan terhadap VOC. Akhirnya kemenangan berada di tangan rakyat Maluku dan Sultan Nuku diangkat menjadi raja Tidore.

3. Perlawanan Sultan Agung Terhadap VOC

a. Latar Belakang

Pada saat itu VOC menguasai dan memonopoli perdagangan di Batavia. VOC sering menghalangi kapal dagang Mataram yang akan berdagang ke Malaka. Akhirnya Sultan Agung mengirim pasukannya ke Batavia untuk menyerang VOC.

b. Berlangsungnya Perlawanan

➥ Serangan Pertama

Serangan pertama Mataram kepada VOC ke Batavia dipimpin oleh Tumenggung Bahurekso. Pasukan ini membuat benteng dari bambu di Marunda. Akan tetapi VOC membakar kampung-kampung di sekitar benteng. Kemudian pasukan mataram membendung Sungai Ciliwung agar benteng VOC kekurangan air. Namun, Pasukan Mataram harus menelan kekalahan akibat kalah dalam persenjataan dan staminanya terkuras akibat perjalanan yang ditempuh oleh pasukan Mataram. Pada serangan ini Tumenggung Bahurekso gugur.


➥ Serangan Kedua

Setelah menelan kekalahan pada serangan pertama, Sultam Agung menyiapkan strategi untuk serangan kedua. Sultan Agung menambah jumlah kapal dan persenjataan serta membangun lumbung makanan di Tegal dan Cirebon sebagai pemasok makanan pasukan Mataram. Pasukan Mataram dipimpin oleh Dipati Puger dan Dipati Purbaya dan membawa pasukan berjumlah 80.000.

Dalam serangan ini Mataram berhasil menghancurkan benteng Hollandia dan berusaha menerobos masuk ke Batavia. Akan tetapi, VOC mengirim kapal perang ke lumbung makanan pasukan Mataram dan pasukan Mataram mengalami kelaparan. Akhirnya Mataram mengalami kekalahan.

4. Perlawanan Banten Terhadap VOC

a. Kebencian Sultan Ageng Tirtayasa terhadap VOC

Keberadaan VOC di Batavia menjadi penghalang perkembangan perdagangan kerajaan Banten. Karena itulah Sultan Ageng Tirtayasa sangat membenci VOC. Kemudian Banten melakukan perampasan dan pengerusakan kapal serta perkebunan VOC. Akan tetapi, VOC tidak bisa berbuat banyak karena harus menghadapi pemberontakan Trunojoyo.

Kemudian Sultan Ageng Tirtayasa mengundang negara-negara asing untuk berdagang di Banten. Kondisi tersebut dianggap mengganggu bandar perdagangan VOC di Batavia. Kemudian VOC melarang kapal Cina dan Maluku untuk melanjutkan berdagang di Banten. Hal itu menimbulkan kemarahan Sultan Ageng dan rakyat Banten.

b. Politik Devide et Impera VOC di Banten

Sultan Ageng Tirtayasa melakukan perombakan birokrasi di Banten. Sultan Haji diangkat menjadi raja pembantu yang bertugas mengurusi urusan dalam negeri. Sedangkan Sultan Ageng dan Pangeran Arya Purbaya bertanggung jawab atas urusan luar negeri.

Kemudian VOC menerapkan siasat politik adu domba (devide et impera) kepada Banten yang melakukan pemisahan kekuasaan. VOC menghasut Sultan Haji Bahwa yang akan diangkat menjadi raja adalah Pangeran Arya Purbaya. Kemudian Sultan Haji melakukan penghianatan dengan menandatangani perjanjian dengan VOC agar ia dapat menjadi Sultan Banten.

Setelah perjanjian tersebut disetujui oleh Sultan Haji, terjadilah perang antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan Sultan Haji dibantu VOC.

Pada akhirnya, Sultan Ageng menelan kekalahan, dan Banten di bawah kepemimpinan Sultan Haji mengalami kemunduran akibat banadar perdagangan Banten hanya menjadi bayang-bayang Batavia.


5. Perlawanan Rakyat Makassar Terhadap VOC

a. Kemajuan Perdagangan di Makassar

Kerajaan Makassar menerapkan sistem perdagangan bebas dengan mengedepankan keterbukaan dengan pendatang dan mengizinkan pedagang asing untuk membangun loji-loji di seitar Pelabuhan Sumba Opu. Pelabuhan tersebut merupakan transito terbesar untuk tempat singgah kapal dagang dan menjadi pasar rempah-rempah selundupan dari Maluku yang dikuasai oleh VOC. VOC merasa terganggu dan tidak bisa melakukan monopoli perdagangan di sana.

b. Pertempuran rakyat Makassar dengan VOC

Untuk dapat memonopoli perdagangan di Makassar, VOC melakukan penyerangan terhadap kerajaan Goa yang dipimpin oleh Sultan Hasanuddin. Akan tetapi VOC selalu gagal untuk menaklukkan Makassar.

Kemudian VOC mendapatkan bantuan dari Pangeran Bugis yang bernama Aru Palaka. Tujuan Aru Palaka yaitu untuk membebaskan Kerajaan Bone dari kekuasaan Makassar. Aru Palaka berhasil memengaruhi masyarakat Bugis untuk melakukan pemberontakan.

Akhirnya Sultan Hasanuddin takluk oleh VOC dan dipakasa untuk menandatangani perjanjian Bongaya.


6. Perlawanan Rakyat Riau Terhadap VOC

Perlawanan rakyat Riau salah satunya dilakukan oleh Kerajaan Siak Sri Indrapura. Kerajaan ini didirikan oleh Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah, letaknya di timur laut kota Pekanbaru. Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah terus melakukan serangan terhadap VOC hingga akhir hayatnya.

Kemudia Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah digantikan  oleh putranya yaitu Sultan Abdul Jalil Muzhaffar Syah dan melanjukan perjuangan ayahnya melawan VOC.

Kerajaan Siak terus melakukan serangan terhadap VOC, akan tetapi masih kewalahan. Akhirnya karena dirasa tidak akan mampu melawan VOC melalui peperangan, Sang Panglima membuat siasat tipu daya yang dikenal dengan nama "Siasat Hadiah Sultan". Sultan diminta berpura-pura berdamai dengan VOC, dan VOC pun menerima ajakan ini dengan gembira.

Kemudian terjadilah perundingan damai di loji Pulau Guntung. Di saat perundingan berjalan, sang Sultan mengkode pasukannya yang telah mengepung loji tersebut untuk menyerang pasukan Belanda. Akhirnya loji tersebut dibakar dan kerajaan Siak mengalami kemenangan.


7. Perlawanan Pangeran Mangubumi dan Mas Said

a. Perlawanan Raden Mas Said

Kerajaan Mataram setelah wafatnya Sultan Agung menjalin hubungan dengan VOC. Sebagian wilayah Kerajaan Mataram di sekitar Pantai Utara diberikan kepada VOC. Hal tersebut menimbulkan keresahan bagi rakyat Mataram khususnya kepada Raden Mas Said, sepupu Pakubuwono II yang melakukan perlawanan kepada VOC.

Perlawanan tersebut membuat pasukan VOC dan Mataram kewalahan. Pakubuwono II selaku Raja Mataram membuat Sayembara yang isinya barang siapa berhasil menumpas perlawanan Raden Mas Said akan mendapatkan tanah di Sukowati. Akhirnya Pangeran Mangkubumi berhasil mengalahkan perlawanan Raden Mas Said.

b. Pemberontakan Pangeran Mangkubumi

Setelah berhasil menumpas pasukan Raden Mas Said, Raja Pakubuwono II tidak menepati janjinya kepada Pangeran Mangkubumi malahan pangeran Mangkubumi mendapat ejekan dari Gubernur VOC Jendral van Imhoff.

Akhirnya Pangeran Mangubumi melakukan perlawanan dibantu Raden Mas Said dengan bergrilya melawan pasukan Mataram dan VOC. Alhasil dengan dukungan rakyat dan bupati-bupati, Pangeran Mangkubumi berhasil mengalahkan VOC.

c. Perjanjian Gianti

Setelah kematian Raja Pakubuwono II, VOC mengadakan perjanjian dengan Pangeran Mangkubumi. Isi perjanjian tersebut yaitu :
1) Kerajaan Mataram dibagi menjadi dua wilayah, yaitu Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.
2) Pangeran Mangkubumi diangkat sebagai sultan dan bergelar Sultan Hamengku Buwono.
3) Sultan Hamengku Buwono akan bekerjasama dengan Belanda dalam menyelenggarakan pemerintahannya. Belanda mengangkat Pepatih Dalem sebagai wakilnya di pemerintahan keraton.
4) Pangeran Mangkubumi akan mengampuni bupati yang memihak kepada Belanda.
5) Sultan tidak akan menuntut daerah Madura dan pesisir utara Jawa yang menjadi hak VOC.


B. Perlawanan Terhadap Pemerintahan Hindia-Belanda

1. Perlawanan Rakyat Maluku

a. Penyebab Perlawanan
Saat di bawah jajahan Inggris rakyat Maluku makmur, setelah kedatangan Belanda rakyat Maluku menderita karena ditindas.

b. Jalannya Perlawanan

Tokoh pimpinan : Thomas Matulessy (Pattimura)
Tokoh pembantu : Christina Martha Tiahahu, Anthonie Rebook, Thomas Pattiwel, Said Parintah, dan Philip Latumahina.

Para tokoh tersebut bersama rakyat Maluku membakar perahu Belanda di Pelabuhan Porto dan juga menguasai benteng Duurstede.

c. Akhir Perlawanan
Belanda melakukan serangan besar-besaran dan berhasil menangkap Pattimura, Anthonie Rhebook, Thomas Pattiwel, dan Raja Tiow. Pattimura di hukum mati dengan tiang gantungan di Ambon.

2. Perang Padri

a. Latar Belakang

Antara kaum adat dan kaum Padri di Minangkabau terjadi perselisihan. Perselisihan tersebut dikarenakan kaum adat yang mulai kehilangan pengaruh di Minangkabau. Lalu kaum adat meminta bantuan kepada Belanda dengan menandatangani perjanjian penyerahan Minangkabau ke Belanda.

b. Jalannya Perlawanan

Perlawanan kaum Padri dipimpin oleh Malim Basa atau Imam Bonjol. Dalam peperangan ini Belanda kewalahan. Di waktu yang bersamaan, Belanda harus menghadapi perlawanan Pangeran Diponegoro di Jawa sehingga Belanda meminta berdamai.

c. Akhir Perlawanan

Setelah perlawanan Pangeran Diponegoro berhasil ditumpas, Belanda kembali menyerang kaum Padri dengan mengerahkan semua pasukannya. Alhasil, Tuanku Imam Bonjol berhasil ditangkap dan kaum Padri tidak lagi melakukan perlawanan.

3. Perang Diponegoro

a. Latar Belakang

Pemerintahan Kesultanan Yogyakarta mulai dikuasai Belanda. Raja hanya menjadi simbol kerajaan dan tidak berkuasa dan rakyatpun menderita. Tanah Pangeran

Diponegoro yang merupakan wakil kerajaan tiba-tiba di patok tanpa izin oleh Belanda dan akan dijadikan Jalan. Pangeran Diponegoro marah karena di tanah tersebut terdapat makam leluhurnya.

b. Jalannya Perlawanan

Perlawanan Pangeran Diponegoro meluas dan mendapat dukungan dari rakyat. Dalam perlawanan ini pangeran Diponegoro dibantu oleh Kiai Mojo seorang ulama penguat moral pasukan, dan Sentot Prawirodirjo sebagai panglimanya. Dalam perlawanan ini Belanda sering mengalami kekalahan karena strategi perang gerilya yang diterapkan Pangeran Diponegoro.

c. Akhir Perlawanan

Kekalahan yang sering dialami Belanda, menyababkan Belanda menerapkan taktik Benteng Stelsel dengan mendirikan benteng di setiap daerah yang berhasil dikuasai. Dengan taktik ini Belanda mampu mengungguli Pangeran Diponegoro.

Kemudian Belanda mengusulkan perundingan dengan Pangeran Diponegoro. Dengan perintah Jendral de Kock, Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan di Makassar.


4. Perang Banjar

a. Latar Belakang

Belanda ikut campur tangan dalam pengangkatan sultan Banjar.

b. Jalannya Perlawanan

Tokoh perlawanan rakyat Banjar adalah Pangeran Antasari yang dibantu oleh Tumenggung Surapati, Tumenggung Kartapati, dan Tumenggung Mangkusari.

Dalam perlawanan ini Belanda sedikit kewalahan hinga harus mendatangkan Pasukan dari Jawa untuk menumpasnya. Akhirnya, Kesultanan Banjar berhasil dihapuskan oleh Belanda. Namun Pangeran Antasari dianggakat oleh rakyat dan ulama untuk menjadi Sultan Banjar dan diberi gelar Amiruddin Khalifatul Mukminin.

c. Akhir Perlawanan

Tujuh bulan setelah penobatan Pangeran Antasari sebagai Sultan Banjar, terjadi wabah penyakit yang menyebabkan Pangeran Antasari wafat. Setelah itu, kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya Muhammad Seman. Namun setelah Muhammad Seman gugur, perlawanan rakyat Banjar melemah.


5. Perang Puputan Bali

a. Penyebab Perlawanan

Penerapan hukum tawan karang yang mana setiap kapal yang terdampar di pantai Bali berhak untuk dirampas kerajaan di Bali ingin dihapuskan oleh Belanda. Hal itu disebabkan kapal Belanda ada yang terdampar di sana. Kemudian Belanda mengultimatum kerajaan di Bali untuk menghapuskan hukum tawan karang. Akan tapi kerajaan-kerajaan di Bali tidak mengindahkannya.

b. Jalannya Perlawanan

Perlawanan ini dipimpin oleh I Gusti Ketut Jelantik dari Buleleng yang merupakan gabungan dari seluruh kerajaan Bali.

Belanda telah melakukan dua kali ekspedisi serangan besar-besaran ke Bali. Akan tetapi belum sanggup menghadapi rakyat Bali. Setelah mengirim ekspedisi yang ke tiga dengan pasukan yang sangat besar yang dilengkapi persenjataan modern. Untuk menghadapi serangan tersebut, I Gusti Ketut Jelantik mengobarkan semangat Perang Puputan yang artinya perang habis-habisan.

c. Akhir Perlawanan

Dalam perlawanan tersebut pasukan Bali kalah dan I Gusti Jelantik gugur. Setelah pertempuran tersebut, satu-persatu kerajaan Bali jatuh ke tangan Belanda.

6. Perang Aceh

a. Latar Belakang

Belanda ingin menguasai Aceh dan menuduh Aceh telah mempersulit perdagangan mereka.

b. Jalannya Perlawanan

Perlawanan Rakyat Aceh dipimpin oleh Cut Nyak Dien dan dibantu oleh tokoh lainnya seperti Teuku Umar, Panglima Polim dan Tengku Cik Ditiro. Dalam melawan rakyat Aceh, Belanda selalu mengalami kekalahan, hingga akhirnya Belanda mengirim Snouck Hurgronje untuk mengamati perilaku orang Aceh.

c. Akhir Perlawanan

Setelah mendapatkan kelemahan rakyat Aceh dari Snouck Hurgronje, Belanda kemudian menerapkan siasatnya dengan menangkap pemimpin perlawanan satu-persatu.


Labels: