PERKEMBANGAN SENI RUPA DI INDONESIA
 |
| Perkembangan Seni Rupa |
A. Seni Rupa Primitif
Seni rupa primitif ditandai
dengan pertama ditemukannya sebuah gambar/lukisan berupa telapak tangan di
dinding goa leang-leang , sulawesi selatan.
Seni rupa primitif mempunyai
ciri khusus, yaitu bentuk maupun nilainya selaLu dihubungkan untuk keperluan
upacara-upacara keagamaan.
Misalnya, setiap
memvisualisasikan bentuk manusia terasa diliputi misteri, sifat magis, dan
penuh dengan perlambang.
Perwujudan seni primitif
adalah secara ekspresif, dimana lukisan/gambarnya tanpa proporsi yang wajar,
ada bagian tertentu yang dilebih-lebihkan. Juga melukiskan apa adanya tanpa
pertimbangan etis dan susila.
B. Seni Rupa Klasik
Seni ini mempunyai ciri-ciri
bentuk yang ideal, indah dan dipandang sebagai sesuatu yang sempurna.
Sebuah patung manusia
misalnya, bentuk badan laki-laki di buat atletis, cakap, gagah, dan gentel,
sedangkan patung wanita dibuat lemah lembut, menggambarkan sifat kehalusan,
kecantikan, dll.
Ciri yang lain adalah pada
masa klasik, karya seni rupa mencapai pucak kejayaan/keemasan.
C. Seni Rupa Modern
Seni rupa modern merupakan
babak baru dalam perkembangan seni rupa.
Menurut konsepnya, karya
seni rupa tidak lagi menjadi simbol-simbol kehidupan tradisi yang kaku, namum
ia lebih cenderung menjadi pengungkapan ekpresi dan nilai seorang seniman
secara bebas.
Selain bebas masa yang
mempunyai ciri khas yaitu nilai-nilai baru dalam penciptaannya, teknik baru,
dan media baru.
Masa seni rupa modern
terbagi atas :
1. Masa Perintis
Raden saleh adalah seorang
bangsawan. Ketika beumur 10 th ( 1817) beliau diserahkan oleh pamannya kepada
belanda untuk dididik menjadi seorang “pegawai”.
Pada tahun 1826, ia mulai
dapat pelajaran menggambar dari AAJ Payen, seorang seniman lukis keturunan
belgia yang didatangkan dari Belanda.
Payen meminta Jendral V.der
Capellen untuk memberi ijin kepada R,Saleh untuk meneruskan pelajaran di
Belanda. Di Belanda R.Saleh mendapat
bimbingan seniman potret Cornellius Krusemen, dan seniman naturalis bernama Andreas Schelfhout.
Selama lima tahun R.Saleh
tinggal di Dresden (Jerman) dan mulai dikenal sebagai seniman lukis potret yang
handal dan ahli. Lukisannya banyak disukai oleh kaum bangsawan kota tersebut.
Tahun 1851 R.Saleh pulang ke Indonesia setelah
selama 20 tahun hidup di Eropa bersama
isteri nya Ny. Winkelman.
Pada tahun 1875 - 1879, ia
pergi lagi ke Eropa bersama isteri keduanya yang bernama R.A
Danudirejo.
Pada tahun 1879 R.Saleh kembali lagi ke Indonesia dan menetap
di Bogor. Setahun kemudian tepatnya pada tanggal 23 April 1880, beliau wafat.
R.Saleh adalah seorang
Indonesia pertama yang merintis jalan menuju Seni rupa Indonesia Modern.
R.Saleh yang menjadi titik pertama dari deretan titik yang membuat garis
sejarah perkembangan seni rupa modern di Indonesia. Oleh karena itu meskipun
corak lukisannya romantik, naturalis dan bergaya barat, namun dalam konteks
kesejarahan kedudukannya sangat penting bahkan sangat terhormat .
Karya-karya R.Saleh yang
menjadi maestro, antara lain :
- Antara hidup dan mati
- Berburu banteng di Jawa
- Hutan Terbakar
- Banjir
- Potret putra-putri de
Jonge (1855)
- Potret H.Hentzepeter
(1837)
- Potret RP Bonington
- Potret Keluarga Baud
(1832)
2. Masa Indie Mooi
Setelah meninggalnya
R.Saleh, perkembangan seni rupa Indonesia mengalami jeda beberapa saat.
Kemudian muncullah Abdullah Surio Subroto
( 1878-1941) putra Dr.Wahidin Sudirohusodo .
Abdullah Surio Subroto ini
kemudian dikirim ke Belanda untuk masuk ke Akademi Kedokteran, namun kemudian
ia membelok ke Akademi kesenian yang kemudian ia diikuti oleh anak-anaknya
Sujono Abdullah, Basuki Abdullah, dan Trijoto Abdullah. Pelukis-pelukis lainnya
adalah Pirngadi (1875-1936), Henk Ngantung, Lee Man Fong, Suyono, Wakidi,
dll.
Madzhab Indie Mooi ini hanya
menghasilkan karya potret wanita erotis dan pemandangan alam yang bersifat
turistik, hanya menyenangkan orang lain secara visual saja, miskin kreativitas,
sehingga senimannya hanya mengandalkan
teknik dan bahan saja.
Karya-karya yang menjadi
terkenal, antara lain :
- Abdullah Surio
Subroto:Dataran Tinggi di Bandung dan Pemandangan G.Merapi
- Pirngadi: Pelabuhan Ratu
- Basuki Abdullah : Wanita
Spanyol, Telanjang, Potret Seorang Gadis, dan Menyisir Rambut.
3. Masa Cita Nasional
Pada masa ini Indonesia
tengah terjadi pergolakan, di segala bidang. Bidang Kesenian berusaha mencari
mencapai ciri kesenian nasional khas Indonesia. Usaha ini diilhami oleh rasa
kebangsaan yang tinggi.
S.Sudjoyono adalah figure
yang membakar semangat nasionalisme dan tidak puas dengan kehidupan masa Indie
Mooi yang serba indah, tidak jelas konsep seninya, karena mengingkari dan
bertolak belakang dengan kenyataan hidup di Indonesia yang sebenarnya.
S.Sudjoyono mencibir dan menganggap pengingkaran terhadap kenyataan dan tidak
nasionalis.
S.Sudjoyono dan Agus Djaja
akhirnya bergabung mendirikan PERSAGI (Persatuan Ahli Gambar Indonesia) yang
diketuai Agus Djaja dan S.Sudjoyono sebagai sekretarisnya. Tujuan PERSAGI adalah
mengembangkan seni lukis dan mencari corak Indonesia asli.
Konsep mereka jelas terlihat
lewat pernyataan mereka : “Teknik tidak penting, yang penting jiwa ini kita
tumpahkan. Yang perlu isi hati keluar semua, keluar dengan cara teknik, bukan
kepandaian melukis. Kita keluarkan kata hati yang padat karena banyak menahan”
Karya-karya pada masa ini
adalah :
- S.Sudjoyono : Di depan
kelambu terbuka, Cap Go Meh, dan Nyekar
- Agus Djaja : Dalam Taman
Nirwana dan Suara Suling di Malam Hari
- Otto Djaja : Wanita Impian
4. Masa Pendudukan Jepang
Pada masa Jepang, yang ada
hanyalah pembentukan kelompok diantaranya adalah “Keimin Bunka Sidhoso” yang
tujuan sebenarnya adalah untuk propaganda pembentukan kekaisaran Asia Timur
Raya. Keimin Bunka Sidhoso ini didirikan
oleh tentara Dai Nippon dan diawasi beberapa seniman Indonesia antara lain :
Agus Djaja, Otto Djaja, Trubus S, Henk Ngantung dsb.
Perkumpulan “POETRA” (Pusat
Tenaga Rakyat) anggotanya : Ir Soekarno, Moh Hatta, Ki Hadjar Dewantara, K.H
Mas Mansyur. Kemudian bergabung Hendra Gunawan, Sudarso, Barli, Wahdi dsb.
Pada th 1944 Poetra
dibubarkan oleh Jepang, dan S.Sudjoyono mengajar di Keimin Bunka Sidhoso. Pada
masa ini seniman berkesempatan untuk berpameran.
5. Masa Pasca Kemerdekaan
Kemerdekaan rupanya telah
membawa angin segar bagi seniman yang beberapa tahun sebelumnya terbelenggu
oleh tirani penjajahan. Muncullah kelompok seniman di Tanah air .
Adapun kurun perkembangannya
adalah sbb :
- Tahun 1946
Berdiri sanggar “Masyarakat”
pimpinan Affandi , yang kemudian berubah menjadi “seniman Indonesia muda” (SIM)
pimpinan S.Sudjoyono yang beranggotakan Affandi, Hendra Gunawan, Trubus, Rusli,
Hariyadi, Zaini, D.Joes.
- Tahun 1947
Affandi dan Hendra Gunawan
keluar dari SIM, dan mendirikan “Pelukis Rakyat” yang beranggotakan Hendra
Gunawan, Trubus, Kusnadi, Rustamaji, dan Satoto .
- Tahun 1948
Di Yogyakarta para seniman
SIM, Pelukis Rakyat, Poetra, Taman Siswa, merumuskan pendirian “ASRI” Akademi
Seni Rupa Indonesia . Tokoh-tokohnya adalah R J Katamsi, S.Sudjoyono, Hendra
Gunawan, Jayengasmoro, Kusnadi, dan Sindusisworo .
- Tahun 1950
Di Bandung berdiri “Balai
Perguruan Tinggi Guru Gambar” yang dipelopori olah Prof. Syafe’i Sumarya, Mochtar Apin, Prof. Ahmad Sadali,
Sujoko, Eri Karta Subarna.
Lembaga ini yang kemudian
menjelma menjadi ITB jurusan Seni Rupa dan Desain.
- Tahun 1955
Lee Man Fong mendirikan “Yin
Hua" yaitu pelukis Indonesia
keturunan Tionghoa.
- Tahun 1958
Gaos Harjasumantri, Usman
Effendi, Trisno Sumardjo dan Zaini
membentuk Yayasan Seni dan Design Indonesia.
- Tahun 1959
Nashar, Mustika dan Arif
Budiman mendirikan Organisasi Seniman Indonesia.
6. Masa Pendidikan Formal
Dari hasil pertemuan para
seniman di Yogyakarta sejak tahun1948,
terbentuk pendirian “ASRI” Akademi Seni Rupa Indonesia ini berdiri pada
tanggal 18 Januari 1850 dengan direktur R.J KATAMSI.
Pada tahun yang sama (1950)
di Bandung berdiri Balai Perguruan Tinggi Guru Gambar yang dipelopori oleh
Prof. Syafe’i Sumarya . Pada tahun 1959
lembaga tersebut berubah menjadi ITB
Seni Rupa dan Desain .
Keadaan ini kemudian diikuti
munculnya jurusan-jurusan seni rupa di semua IKIP di seluruh Indonesia .
7. Masa Seni Rupa Baru
Tahun 1974 muncul kelompok
baru yang menampilkan corak baru, model baru bahkan dengan konsep “baru”
sehingga sangat menggembirakan , bagi perkembangan seni di Indonesia .
Seniman muda yang
mempelopori gerakan ini adalah : Dr. Jim Supangkat, Harsono, Bonyong Muni
Ardhi, Hardi, Dr. I Nyoman Nuarta ,
Nanik Mirna.
Karena gerakan seniman
kontroversial, karya-karya mereka kurang bisa diterima dihati para seniman
lainnya . akhirnya kelompok/gerakan ini mem bubar kan diri pada tahun 1978 .
Konsep seni rupa baru :
- Tidak membedakan disiplin
seni satu dengan yang lain
- Menghilangkan sikap
spesialis cipta seni
- Mendambakan kreativitas
baru
- Membebaskan diri dari
batasan-batasan yang sudah ada
- Bersifat eksperimental
Labels: Seni Rupa